Diri sedang sepi dalam hancur hati terbujur, babak belur sakitnya panjang terulur.
Yang tertinggal kini hanya wangi parfum wanita di baju kemeja dan tersimpan di tiap kantongnya.
Ada juga tertinggal sedikit kesedihan dan semata hanya semacam pengkhianatan.
Di sini, di taman ini, ingatanku berputar-putar merivious kembali ke drama hari-hari lalu,
Drama hari wanitaku senderkan palanya di pundak kaku
Drama hari tubuhmu selimuti tubuhku
Drama hari dan waktu, saat bibir kami terpagut beradu.
Pukul empat tiga puluh dan detik yang lewat berpuluh-puluh, saat subuh.
Embun turun, terjun. Menitik di ubun-ubun dan mataku.
Membangunkan, lebih keras mengoyak-ngoyakkan lamunan.
Nyatanya subuh tetap syahdu,
Lebih banyak lagi rinduku berbiak, beranak pinak dalam benak.
Aku tetap ingin mengingat. Iya, aku masih mau mengingat.
Aku mendesah, berkeluh dan berkesah. Aku resah….
Tersesat pada tempat tak terlihat dari mata yang kasat
Aku marah, berang mengerang membaca cerita sang pengarang.
Berpunggungan berbalik kembali dengan menyisahkan pertanyaan-pertanyaan sampai ke tanah kubur yang belum terjawab.
Hingga sampai matahari melongok dari jendela jatuhkan cahaya.
Terpungut sekali cahayanya berawal dari lima kemudian terangkai menjadi mega.
Dan kubagikan kepada tanah bangsa, kepada bapak ibu, kepada wanita, kepada kalian dan kepada semua menjadi cinta kasih ke sesama. Sambil mengucap “inilah oleh-oleh dari Sang Pencipta.”
Ayodia, 03 Juni 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar