Minggu, 06 Desember 2009

Lebih Cepat Maut

Tuhan saat ini aku tak temui adanya sebuah kehidupan
Namun disaat lain ku yakini bahwa ada cahaya sebagai penuntun jalan
Aku benar-benar lelah dan terlalu letih mencari arah yang harusnya jadi tujuan
Tuhan tolong sirnahkanlah kebohongan dan munculkanlah kebenaran
Aku merasa akan datang lebih cepat maut mencabut dan mengajakku pulang.

Tanya Wajah-Wajah Serupa

Aku rasa, aku belum sanggup berdiri tegar pada posisi yang seharusnya ku anggap benar
Manusia hanya bisa berharap
Berharap akan datang yang benar dan membuat kita menjadi tegar
Separuh jiwaku berkelana, lari dari masa lalu
Separuhnya lagi mencari yang benar dan meyakini bahwa itulah sebuah kebenaran
Hatiku panas terpanggang
Rasaku mati dan pergi
Namun dari batas waktu yang tersisa kubiarkan air membawaku ke tempat dimana seharusnya ku bermuara
Api unggun yang dia buat panasnya sampai di sini
Aku menoleh pada wajah yang serupa
Tanganku mengais apapun yang ada di dalam dan ingin memuntahkannya keluar
Mempertahankan yang benar namun tak serupa atau mempertahankan yang serupa tapi belum tentu benar?
Aku dipaksa menoleh oleh pertanyaan itu

Api

Ia kembali datang menjadi api
Membakar apapun yang di dekatnya
Sebentarpun tak ada waktu untuk menjadi dingin
Apinya terus membakar, bakar yang ada
Mawar merah itupun ikut terbakar
Amarahnya memuncak
Dan aku hanya duduk, diam
Berharap pembakaran ini cepat usai
Tenang dan kemudian bicaralah!
Dengar dan kemudian baru berbicara!
Kami berpelukkan, kami berangan, kami punya harapan!

Hujan

Rintik-rintik hujan seperti berirama, irama damai
Sejuk kurasa hingga ke hati
Bumi menjadi biru kemudian berwarna hijau
Angin membawa rasa
Cinta yang kupendam telah nyata dan menjadi saksi
Sore ini.mentari malu, sinarnya tak tampak
Nafasku tersendat dan tak biasa
Wajahku sedikit pucat
Wanitaku, naiklah!
Jangan terlalu lama membuatku sendiri
Sepi di sini, sunyi waktu ini, sampai ke hati
Di satu, dua, tiga anak tangga kau menghilang
Namun kukan menemukan mu kembali di sini, di kamar ini
Wanitaku, kau ku tunggu untuk beberapa waktu

Syukurku Untuk Cintamu

Kita tak pernah tak tau apa yang akan terjadi nanti
Kita tak pernah bisa membaca masa depan
Kau dan aku hanya tau hari ini, saat ini
Kau dan akupun tak mau berjanji
Kita hanya ingin bersyukur
Bersyukur dengan apa yang kita genggam di tangan
Bersyukur dengan apa yang kita pikirkan di kepala
Bersyukur dengan apa yang kita rasa di hati
Syukurku untuk cintamu

Jejak yang Lelah

Langkah kami gontai lemah
Jejak kami tertinggal jauh
Kaki kami rapuh dan akan jatuh
Hutan, pantai dan pegunungan telah kami lewati
Seramah alam wajah kami disambut cinta
Duduk di sandaran pohon besar tinggi menjulang
Kami terlihat sangat kecil dan kerdil

Tak Dapat Rasa

Semakin sering dan dalam hati kami tersakiti, semakin membuat kami tidak tau rasa sakit itu sendiri karena kami merasakannya hampir setiap hari

Ikut Arus

Aku berdiri melihat ombak-ombak yang bergumuruh riuh mengucapkan salam alam
Sembari hanyuti beberapa sampah yang terserak
Bukan cerah kau bawa, kelabu kau hampiri
Matahari pekik terik hanguskan imajinasi
Keringat-keringat jatuh meluruh kemudian bersatu bersama ombak dan pasir
Bumi sudah merasa tua dan payah
Sanggupkah kau memberiku jawab
Ikan-ikan berlomba mencari makan
Setelah bersantap kenyang ia berputar-putar
Mengikuti arus gelombang…
Akupun kembali kalut

Kamis, 20 Agustus 2009

Malam Melankolis

Mengapa Malam ini terasa begitu melankolis,
egoisku beradu dengan suara hatiku.
apa karena kamu? aku tak tau pasti.
kau masih terus menerus menghampiriku dalam mimpi
mengingatkan aku pada jejak tapak yang pernah kulalui.
dan aku disini, mengingatmu dimalamku yang sendu.
bersama tulisan ini ku titipkan senandung tangisku untukmu.


20-06-09'

Selasa, 18 Agustus 2009

Bicara dengan Nurani!


Jangan Bicara tentang Merk Bajumu, Restoran Kesukaanmu atau Tempat hang-out Favoritmu.
Bicaralah tentang apa yang ada disekitarmu. Bicaralah tentang Ratusan anak pinggir jalan dan gelandangn yang tersebar di bawah kolong-kolong jembatan, di pingir-pinggir tepi sungai kota atau di setiap lampu-lampu merah jalan.
Lihatlah nasib orang sekitar dengan hati yang terbuka!

Photo By: Fauzan

Bongkar Identitas

“Siapa aku?” “Apa peranku dalam hidup ini?” Setiap orang ingin tau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Para Remaja pada umumnya memiliki sifat ingin tahu. Kita dijejali terus-menerus bahwa jawabanya ada di pusat perbelanjaan, TV, ke budaya populer untuk mencari petunjuk tentang hidup.
Apa yang kita dengar meneriakkan pesan senada: kecantikan bisa dibeli! Kalau kita mau membeli suatu produk tertentu, hidup kita bakal menjadi indah. Kita dipaksa untuk menggunakan uang dan kartu kredit bak seorang gladiator menggunakan pedang saktinya. Belanja bukan lagi sekedar mencari barang-barang yang kita butuhkan: ia merangkap menjadi pencarian arti hidup.
Kita ditipu untuk mengikuti gaya hidup para artis dalam berbagai macam siaran TV murahan. Sayangnya kita sudah tenggelam dalam propaganda yang disajikan di TV dan film-film. Seakan-akan hidup akan terpandang bila seperti Baim wong atau Marshanda, kalau hanya sebatas itu kita memahami diri, kita tak ubahnya bak seorang waria Taman lawang yang berharap terus menerus menjadi wanita. Anehnya lagi ternyata gak cuma kita aja para remaja yang tertipu, bahkan kakek-kakek bagkotan dan nenek bongkok berlomba-lomba dalam gaya hidup yang hedonis dan semerawut seraya meninggalkan identitas orangtua sebagai pengayom. Mereka berlari dari keajaiban satu kekeajaiban yang lain. Sungguh mengherankan!
Nggak ada yang salah bila kita ingin berpenampilan menarik dan sebagaian produk bisa membantu mewujudkan impian tersebut. Juga merupakan hal yang amat wajar untuk pergi berbelanja dan membeli hal-hal yang kita sukai. Kegiatan tesebut menyenangkan dan memberikan kita semangat namun jangan mengharapkan sebuah keajaiban benda-benda nggak bakal membuat kita spesial di mata orang lain akan tetapi apa yang ada di dalam dan tersembunyi di jasad kita ini yang membuat kita tampak spesial dan menggairahkan. Itulah hati’, hati tak pernah bohong, hati hadir untuk memberikan jawaban jujur siapa kita ini..
Jati diri yang sebenarnya dapat ditunjukkan dengan sebuah sikap seperti mengulurkan tangan kepada yang butuh, merencanakan masa depan yang tepat. Sikap seperti itu nggak bisa ditemui di mal atau bioskop yang dingin, hanya pada episode renungan langkah hidup kita yang sanggup menyingkap tirai besi kebohongan pada yang hakiki.
Maka, berhentilah untuk mencari jati diri di mal dan berhentilah mencari jawaban di atas di bioskop dan TV. Sebaliknya lihat diri sendiri untuk temukan identias diri.

Senin, 17 Agustus 2009

Dewi Malam


Dewi datang saat matahari menjadi senja dan berganti malam
dewi berdiri tegar di atas hatiku yang gersang
dewi malam nyanyikan bait-bait irama mesramu!
Peluk aku sebelum kita terlelap!
bentuklah hasratku untuk menjamah dan membelaimu
akan kujilati rasa yang telah lama bisu dan membeku
maka basuhlah raga dana jiwaku
pijakkan cintamu di lobang-lobang terdalam hatiku
aliri kasihmu dan jadikan gelombang kemudian hempaskan aku dihangatnya pelukmu
sekali lagi, sebelum kita terlelap.
dewi malam, dewi datang saat matahari menjadi senja dan berganti malam.

Maju, Mundur atau Mati


Bergerak maju melawan zaman yang ditinggal
pergi oleh amanat yang kemarin disuarakan
Kok bengong! mari berjabat dan satukan niat
Bersama meneruskan amanat yang diinjak oleh orang hebat

-Tanpa soal kenapa takut mati? Karena hidup bukan pilihan utama
-Tanpa soal kenapa diam ? Karena diam membuat sejengkal lebih dekat dengan neraka
-Tanpa soal kenapa tertidur ? Karena bangun takut melihat nasib bangsa
-Tanpa soal kenapa menunduk? Karena berdiri berarti menantang

Maju atau mati karena mundur adalah sebuah penghianatan Dan diam berarti mati sebelum waktunya.



Photo By: Fauzan

Warna Gejolak Jingga


Jingga, warna yang menggiring matahari menuju gemerlap malam di kota dan sunyi dalam gelapnya malam para penduduk desa belum berlistrik. Senja di kota menawarkan beragam aktivitas baru setelah matahari terbenam. aktivitas setelah aktivitas yang menggenjot penduduk kota dengan impian-impian baru setiap harinya. Senja di desa menawarkan damai para penghuninya, seakan memanjakan tubuh yang letih untuk segera menikmati malam.
Panorama senjapun kerap menajdi inspirasi para penyair, pelukis, musisi dan bahkan manusia-manusia yang sedang menikmati gejolak cinta. Indahnya senja. Senja memberi beragam rasa, kedamaian dan keresahan, kegembiraan dan kesediahan, kecintaan dan kebencian. itulah yang senja beri.
Jingga warna senja yang memiliki banyak arti dan penafsiran. Apapun artinya, senja akan selalu hadir di kota dan di desa, senja akan tetap mewarnai hari-hari ini, senja tetap menjadi senja apapun cuaca alamnya, dan senja mewarnai alam ini dengan jingga.

photo By: Fauzan