“Siapa aku?” “Apa peranku dalam hidup ini?” Setiap orang ingin tau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Para Remaja pada umumnya memiliki sifat ingin tahu. Kita dijejali terus-menerus bahwa jawabanya ada di pusat perbelanjaan, TV, ke budaya populer untuk mencari petunjuk tentang hidup.
Apa yang kita dengar meneriakkan pesan senada: kecantikan bisa dibeli! Kalau kita mau membeli suatu produk tertentu, hidup kita bakal menjadi indah. Kita dipaksa untuk menggunakan uang dan kartu kredit bak seorang gladiator menggunakan pedang saktinya. Belanja bukan lagi sekedar mencari barang-barang yang kita butuhkan: ia merangkap menjadi pencarian arti hidup.
Kita ditipu untuk mengikuti gaya hidup para artis dalam berbagai macam siaran TV murahan. Sayangnya kita sudah tenggelam dalam propaganda yang disajikan di TV dan film-film. Seakan-akan hidup akan terpandang bila seperti Baim wong atau Marshanda, kalau hanya sebatas itu kita memahami diri, kita tak ubahnya bak seorang waria Taman lawang yang berharap terus menerus menjadi wanita. Anehnya lagi ternyata gak cuma kita aja para remaja yang tertipu, bahkan kakek-kakek bagkotan dan nenek bongkok berlomba-lomba dalam gaya hidup yang hedonis dan semerawut seraya meninggalkan identitas orangtua sebagai pengayom. Mereka berlari dari keajaiban satu kekeajaiban yang lain. Sungguh mengherankan!
Nggak ada yang salah bila kita ingin berpenampilan menarik dan sebagaian produk bisa membantu mewujudkan impian tersebut. Juga merupakan hal yang amat wajar untuk pergi berbelanja dan membeli hal-hal yang kita sukai. Kegiatan tesebut menyenangkan dan memberikan kita semangat namun jangan mengharapkan sebuah keajaiban benda-benda nggak bakal membuat kita spesial di mata orang lain akan tetapi apa yang ada di dalam dan tersembunyi di jasad kita ini yang membuat kita tampak spesial dan menggairahkan. Itulah hati’, hati tak pernah bohong, hati hadir untuk memberikan jawaban jujur siapa kita ini..
Jati diri yang sebenarnya dapat ditunjukkan dengan sebuah sikap seperti mengulurkan tangan kepada yang butuh, merencanakan masa depan yang tepat. Sikap seperti itu nggak bisa ditemui di mal atau bioskop yang dingin, hanya pada episode renungan langkah hidup kita yang sanggup menyingkap tirai besi kebohongan pada yang hakiki.
Maka, berhentilah untuk mencari jati diri di mal dan berhentilah mencari jawaban di atas di bioskop dan TV. Sebaliknya lihat diri sendiri untuk temukan identias diri.