Kamis, 20 Agustus 2009

Malam Melankolis

Mengapa Malam ini terasa begitu melankolis,
egoisku beradu dengan suara hatiku.
apa karena kamu? aku tak tau pasti.
kau masih terus menerus menghampiriku dalam mimpi
mengingatkan aku pada jejak tapak yang pernah kulalui.
dan aku disini, mengingatmu dimalamku yang sendu.
bersama tulisan ini ku titipkan senandung tangisku untukmu.


20-06-09'

Selasa, 18 Agustus 2009

Bicara dengan Nurani!


Jangan Bicara tentang Merk Bajumu, Restoran Kesukaanmu atau Tempat hang-out Favoritmu.
Bicaralah tentang apa yang ada disekitarmu. Bicaralah tentang Ratusan anak pinggir jalan dan gelandangn yang tersebar di bawah kolong-kolong jembatan, di pingir-pinggir tepi sungai kota atau di setiap lampu-lampu merah jalan.
Lihatlah nasib orang sekitar dengan hati yang terbuka!

Photo By: Fauzan

Bongkar Identitas

“Siapa aku?” “Apa peranku dalam hidup ini?” Setiap orang ingin tau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Para Remaja pada umumnya memiliki sifat ingin tahu. Kita dijejali terus-menerus bahwa jawabanya ada di pusat perbelanjaan, TV, ke budaya populer untuk mencari petunjuk tentang hidup.
Apa yang kita dengar meneriakkan pesan senada: kecantikan bisa dibeli! Kalau kita mau membeli suatu produk tertentu, hidup kita bakal menjadi indah. Kita dipaksa untuk menggunakan uang dan kartu kredit bak seorang gladiator menggunakan pedang saktinya. Belanja bukan lagi sekedar mencari barang-barang yang kita butuhkan: ia merangkap menjadi pencarian arti hidup.
Kita ditipu untuk mengikuti gaya hidup para artis dalam berbagai macam siaran TV murahan. Sayangnya kita sudah tenggelam dalam propaganda yang disajikan di TV dan film-film. Seakan-akan hidup akan terpandang bila seperti Baim wong atau Marshanda, kalau hanya sebatas itu kita memahami diri, kita tak ubahnya bak seorang waria Taman lawang yang berharap terus menerus menjadi wanita. Anehnya lagi ternyata gak cuma kita aja para remaja yang tertipu, bahkan kakek-kakek bagkotan dan nenek bongkok berlomba-lomba dalam gaya hidup yang hedonis dan semerawut seraya meninggalkan identitas orangtua sebagai pengayom. Mereka berlari dari keajaiban satu kekeajaiban yang lain. Sungguh mengherankan!
Nggak ada yang salah bila kita ingin berpenampilan menarik dan sebagaian produk bisa membantu mewujudkan impian tersebut. Juga merupakan hal yang amat wajar untuk pergi berbelanja dan membeli hal-hal yang kita sukai. Kegiatan tesebut menyenangkan dan memberikan kita semangat namun jangan mengharapkan sebuah keajaiban benda-benda nggak bakal membuat kita spesial di mata orang lain akan tetapi apa yang ada di dalam dan tersembunyi di jasad kita ini yang membuat kita tampak spesial dan menggairahkan. Itulah hati’, hati tak pernah bohong, hati hadir untuk memberikan jawaban jujur siapa kita ini..
Jati diri yang sebenarnya dapat ditunjukkan dengan sebuah sikap seperti mengulurkan tangan kepada yang butuh, merencanakan masa depan yang tepat. Sikap seperti itu nggak bisa ditemui di mal atau bioskop yang dingin, hanya pada episode renungan langkah hidup kita yang sanggup menyingkap tirai besi kebohongan pada yang hakiki.
Maka, berhentilah untuk mencari jati diri di mal dan berhentilah mencari jawaban di atas di bioskop dan TV. Sebaliknya lihat diri sendiri untuk temukan identias diri.

Senin, 17 Agustus 2009

Dewi Malam


Dewi datang saat matahari menjadi senja dan berganti malam
dewi berdiri tegar di atas hatiku yang gersang
dewi malam nyanyikan bait-bait irama mesramu!
Peluk aku sebelum kita terlelap!
bentuklah hasratku untuk menjamah dan membelaimu
akan kujilati rasa yang telah lama bisu dan membeku
maka basuhlah raga dana jiwaku
pijakkan cintamu di lobang-lobang terdalam hatiku
aliri kasihmu dan jadikan gelombang kemudian hempaskan aku dihangatnya pelukmu
sekali lagi, sebelum kita terlelap.
dewi malam, dewi datang saat matahari menjadi senja dan berganti malam.

Maju, Mundur atau Mati


Bergerak maju melawan zaman yang ditinggal
pergi oleh amanat yang kemarin disuarakan
Kok bengong! mari berjabat dan satukan niat
Bersama meneruskan amanat yang diinjak oleh orang hebat

-Tanpa soal kenapa takut mati? Karena hidup bukan pilihan utama
-Tanpa soal kenapa diam ? Karena diam membuat sejengkal lebih dekat dengan neraka
-Tanpa soal kenapa tertidur ? Karena bangun takut melihat nasib bangsa
-Tanpa soal kenapa menunduk? Karena berdiri berarti menantang

Maju atau mati karena mundur adalah sebuah penghianatan Dan diam berarti mati sebelum waktunya.



Photo By: Fauzan

Warna Gejolak Jingga


Jingga, warna yang menggiring matahari menuju gemerlap malam di kota dan sunyi dalam gelapnya malam para penduduk desa belum berlistrik. Senja di kota menawarkan beragam aktivitas baru setelah matahari terbenam. aktivitas setelah aktivitas yang menggenjot penduduk kota dengan impian-impian baru setiap harinya. Senja di desa menawarkan damai para penghuninya, seakan memanjakan tubuh yang letih untuk segera menikmati malam.
Panorama senjapun kerap menajdi inspirasi para penyair, pelukis, musisi dan bahkan manusia-manusia yang sedang menikmati gejolak cinta. Indahnya senja. Senja memberi beragam rasa, kedamaian dan keresahan, kegembiraan dan kesediahan, kecintaan dan kebencian. itulah yang senja beri.
Jingga warna senja yang memiliki banyak arti dan penafsiran. Apapun artinya, senja akan selalu hadir di kota dan di desa, senja akan tetap mewarnai hari-hari ini, senja tetap menjadi senja apapun cuaca alamnya, dan senja mewarnai alam ini dengan jingga.

photo By: Fauzan