Minggu, 02 Januari 2011

Sekedar Cerita dari Gerbong Kereta

Aku menjongkokkan badanku menempati bagian kecil dari gerbong yang sesak. Peluit masinis menggerakkan gerbong yang berbaris panjang, dan dengan patuhnya gerbong-gerbong jalan beriringan. Kanan-kiri kulihat mata-mata letih dan sayu berkeliling disamping-sampingku, si empunya mata-mata itu tidak mengeluh maupun mengaduh. Hanya diam. Di udara yang panas aku mencium bau kerja keras dan kemelaratan. Baunya kemiskinan. Di gerbong kereta, dalam hatiku bertanya: inikah sebenar-benarnya bentuk putra-putri dari ibunya yang pertiwi? Dari sudut ke sudut suara bercakap-cakap riuh menjadi gemuruh. Kereta berhenti dari stasiun ke stasiun, menaik turunkan penumpang yang sedari dalam perutnya gaduh, atau mungkin kereta ini ingin sejenak istirahat dan sekedar menarik nafas.
Sedang perjalanan masih jauh, tak terhtiung dari mata yang sekedar melihat ujung rel kereta. Matahari sudah hendak turun, dan langit pesta warna di langit senja. Penglihatanku kabur, samar tak jelas pandang, mengikuti matahari yang perlahan menapaki tanah kuburnya. Seorang lelaki berkaos merah menjajakan minuman. Luka koreng di lengannya telah berborok, mukanya hitam mengikuti garis warna hingga ke kaki, mundar-mandir dari gerbong ke gerbong. Beberapa saat aku sempat bertukar pandang dengan wanita di depan kiriku, namun tak berlangsung lama. Aku lebih memilih mengabadikan kejadian-kejadian ini dalam ingatanku. Kembali aku bertanya: di manakah air susu Ibu yang pertiwi? Aku tak melihat orang-orang ini meminumnya atau sekedar mengecap setetes dari dua buah teteknya yang subur.
Badan mereka ini tegap tak mudah goyah atau bandan-badan mereka ini terlalu goyah sehingga terlihat tegap. Aku tak tahu pasti. Yang pasti ku tahu, mereka ini wajah-wajah asli pribumi yang di pojokkan oleh kehidupan tanpa pilihan, namun menolak kemelaratan dan ketidakrataan kemakmuran. Ku alihkan corong mataku melihat alam sekitar yang penuh dengan hijaunya ladang para petani yang dengan setia menanami padi. Beberapa ternak yang berdansa mesra, burung-burung terbang memelodikan nada-nada menjadi harmoni yang tak begitu jelas ku dengar dari gerbong bising ini, langit yang ditunggangi pelangi memberi warna surga pada langit sore ini, semua tak lepas dari sorot mataku. Perfect, sempurna. Luar biasa. Duhai langit dan bumi, aku terkesima. Kini bumi kulihat lebih lekat. Namun, tak lama semacam ada silap di mataku, perbedaan antara bumi dengan para penghuninya. Begitu berbeda.
Kereta baru saja sampai tujuan. Mereka yang kukenal lewat mata dan batinku yang kemudian kucatatan dalam tulisan kecewa dengan kata merana, sebentar kitakan berpisah. Maafkan, mungkin aku sedang iseng mencatat dan jail bertanya. Mungkin aku sedang enak menulis mereka dalam tulisanku, mungkin juga aku sedang berguyon dengan hal-hal sekitarku. Mungkin saja. Kutinggalkan mereka, namun kusempatkan untuk menyisipkan doa kekantong-kantong celana mereka, dan ku selipkan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban di tetek perut Ibu yang Pertiwi. Aku meninggalkan wajah-wajah asli Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar